Ahok dan Orang Sakti (Bagian 1)

Ikuti
Ahok via smeaker.com

Beberapa waktu lalu, media mencatat, Ahok  'menyanjung' Yusril dengan sebutan 'orang hebat'. Yusril lantas menjawab dengan mengakui bahwa Ahok 'orang sakti'. Gubernur ibukota yang tampak sibuk supaya terpilih lagi itu, tentu saja bukan sedang betul-betul menyanjung. Ada serangan di balik pujian.

Di lain pihak, Yusril sebagai pakar hukum dan pengacara, sekaligus politisi yang sedang berjuang masuk ke dalam bursa Pilgub DKI Jakarta, agaknya membalas, seperti ungkapan Betawi, “lu jual, gue beli”.

Fragmen 'berbalas pantun'  itu mungkin kini sudah agak dilupakan. Padahal kalau diselidiki, tambahan makna yang dilakukan keduanya terhadap kata “hebat” dan “sakti”, utamanya dalam konteks asas persamaan di depan hukum, cukup menarik untuk digali. Benarkah hebat? Di sebelah mana saktinya? Namun itu bukan pokok tulisan kali ini.

"Padahal kalau diselidiki, tambahan makna yang dilakukan keduanya terhadap kata “hebat” dan “sakti”, utamanya dalam konteks asas persamaan di depan hukum, cukup menarik untuk digali. Benarkah hebat? Di sebelah mana saktinya?"

Julukan, gelaran, sebutan, atau apapun istilahnya, tentu saja sejak dahulu tergolong biasa. Termasuk pada masa kerajaan-kerajaan berdiri di persada nusantara. Terkait itu, ada satu nama atau gelar yang sayang kalau dilewatkan, berasal dari ratusan tahun silam. Dialah Sang Ratu Sakti, raja ke-4 kerajaan Pakuan Pajajaran[1] yang diperkirakan berkuasa sejak tahun 1543 M.

Berbeda dengan sang founding father yakni Sri Baduga Maharaja yang memimpin masa kejayaan Pakuan Pajajaran, reputasi Ratu Sakti sebagai pemimpin ternyata sungguh buruk.

Jika pada masa Sri Baduga kerajaan mencakup Sunda Kalapa, Banten, dan nyaris seluruh bagian Jawa Barat, pada masa Ratu Sakti, justru tanda-tanda kemunduranlah yang kian terasa. Seperti kata peribahasa “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang,” kisah Ratu Sakti terceritakan pula dalam sejumlah penuturan kekinian.   

Si Orang Sakti dari berabad silam itu, dikenal sebagai raja yang lalim dan kejam[2], berperangai rendah[3], tabiatnya buruk, suka menekan rakyatnya[4], dan tidak berbudi[5]. Hermawan Aksan, melalui novelnya[6], menuturkan kembali karakter Ratu Sakti sebagai pemimpin "yang berkuasa dengan zalim, hanya ingin memenuhi nafsu serakahnya. Ia membunuh orang-orang tak berdosa, merampas harta rakyat, menghina para pendeta."

Tentu saja sosok "Orang Sakti" dari berabad lalu itu adalah sosok yang nyata. Walaupun tidak terekam marah-marah semaunya di Youtube, tidak masuk berita koran karena membentak ibu-ibu miskin sampai sang ibu pingsan, tidak masuk televisi karena semena-mena memecat seorang 'Dewi Sartika' abad ke-21 dari amanah yang diemban, juga tidak dipanggil KPK terkait kasus suap dan korupsi, tetapi Si “Orang Sakti” itu tercatat jelas dalam naskah sejarah Carita Parahyangan[7]. 

Dalam naskah yang ditulis di atas daun lontar tersebut, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda sekarang, Ratu Sakti dinyatakan sebagai "mindeng maehan jalma tanpa dosa, ngarampas tanpa rasrasan, hanteu hormat ka kolot, ngahina pandita"[8]. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, baris-baris basa Sunda tadi lebih kurangnya berarti, bahwa Ratu Sakti itu "[p]embunuh orang tak berdosa, merampas tanpa perasaan, tak hormat kepada orang yang lebih tua, menghina pemuka agama."

Entah bagaimana lebih detailnya ulah Si Orang Sakti itu. Tidak ada perincian nama-nama siapa saja yang jadi mangsa tabiat zalimnya (mungkin sedemikian meluas, saking sistematis terstruktur dan masifnya). Tentu saja Orang Sakti itu tak pernah meraih julukan tambahan sebagai Bapak Reklamasi. Ia pun tidak diberitakan mengejek Bapak Reformasi sebagai orang tua yang pikun.

Ia juga tidak dikabarkan menuding kelompok masyarakat sipil seperti Majelis Rasululllah sebagai calo lapak di Lapangan Monas. Tidak pula ia menggusur Kampung Pulo, Pasar Ikan, dan mana-mana lagi tanpa ganti rugi, dengan penuh kepercayaan diri, penuh nyali, tanpa takut digugat orang-orang yang terzalimi. Tak lain karena memang Si Orang Sakti itu hadir pada dimensi waktu yang berbeda, pada zaman dahulu kala. 

Namun sejarah dipercaya punya polanya tersendiri. Seperti ungkapan terkenal dari filosof George Santayana[9], mereka yang tidak bisa mengingat masa lalu, akan dikutuk untuk mengulang-ulanginya lagi. Ungkapan Santayana itu dapat diparafrasekan menjadi “barangsiapa yang melalaikan sejarah, akan terjerumus ke dalam lubang-lubangnya berulangkali.” Atau dalam seruan yang tegas dari founding father Indonesia, Bung Karno, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah!”   

Pada umumnya, manusia pun percaya bahwa di atas pohon sejarah ada banyak buah pelajaran yang dapat dipetik. Malah sebenarnya tak perlu beratus tahun ke belakang, terkadang cukup mencermati secara seksama periode 5 tahun pun sudah banyak kebenaran dan kepalsuan yang bisa diayak dan dipisahkan. Seperti kata peribahasa, keledai tidak terjerumus lubang dua kali.

Namun apa jadinya kalau keledainya ditutup matanya secara paksa? Keledai sekalipun agaknya akan berupaya melawan ketika diperlakukan demikian. Terlebih-lebih lagi kalau bukan keledai. Terlebih lagi jika penutup mata itu berupa layar monitor penuh berita sempit pandang nan menyilaukan, berita yang diangkat dan disodok ke khalayak dengan framing sarat muatan kepentingan rezim dan pemodal. 

Seperti sadar sedang berbincang lintas zaman, agar tak mengulang kekeliruan yang serupa dalam siklus bangun jatuh negeri, ternyata dalam naskah yang sama, dalam Carita Parahyangan, sudah langsung diingatkan pula bagaimana sebaiknya masyarakat bertindak kepada Orang Sakti semacam itu.

Katanya, ulah diturut ku nu pandeuri, lampah ratu kitu mah. Tah kitu riwayat sang ratu teh[10]. "Janganlah diikut diteladani oleh orang-orang yang kemudian, perilaku pemimpin yang demikian. Nah begitulah riwayat Sang Ratu Sakti itu." Sebuah wanti-wanti yang sederhana nan mudah dicerna.

Namun, apakah benar Si Orang Sakti itu sepenuhnya tanpa prestasi. Aan Merdeka Permana melalui bukunya, menampilkan Ratu Sakti yang ditampilkan beberapa kali menang perang meredam pemberontakan. "Dia memimpin tanpa tergoyahkan. ...selama dia memerintah, kekacauan terjadi di mana-mana dan berbagai pemberontakan pun meletus. [R]aja ini tetap sanggup bertahan duduk di atas singgasananya, sanggup bertahan dari serangan pemberontak, bahkan berani memadamkannya"[11].

"Namun, apakah benar Si Orang Sakti itu sepenuhnya tanpa prestasi. Aan Merdeka Permana melalui bukunya, menampilkan Ratu Sakti yang ditampilkan beberapa kali menang perang meredam pemberontakan"

Lebih jauh dikisahkan (Permana, 2009), bahwa Ratu Sakti menekan rakyat dengan seba (pajak) yang berat. Tak hanya itu, "... bawahannya yang dianggap membangkang, tanpa pikir panjang diserbunya." Memang tidak disebutkan ada yang menderita karena rendahnya serapan anggaran, tetapi dikisahkan rakyat di bawah Ratu Sakti kala itu "menderita karena banyak terlibat perang."

Dipaparkan juga bahwa Ratu Sakti itu "alergi terhadap kritik. Dia tak mau menerima kritik dari bawahannya. Siapa pun yang berani mengkritiknya, dianggapnya sebagai lawan politik yang merongrong kewibawaannya. Raja ini memiliki kekuatan dan banyak dilindungi oleh pembantu-pembantu pandai"[12].

Dalam naskah sejarah, ia memang diceritakan berkuasa selama 8 tahun lamanya. Namun kita tidak perlu terburu-buru menghitung memakai jemari lima. Karena di tengah segala 'prestasi' Si Orang Sakti, rakyat kala itu memandang kelaliman dan perangainya yang rendah sudah melampaui batas. Tak heran maka seperti dijelaskan Kartasumitra (1993), bahwa akibat kelaliman dan berbagai pelanggarannya, Si Orang Sakti diturunkan dari tahtanya[13].

Namun agaknya terbuktilah pepatah Tiongkok, bahwa ikan itu busuk dari kepalanya. Kepemimpinan zalim Ratu Sakti itu terlanjur menjadi pengantar bagi masa kaliyuga, masa malapetaka. Hadir sebagai suksesornya ialah raja yang tak peka realitas sosial yang ada.

Suksesor Ratu Sakti itu digambarkan sebagai pemimpin Nu ngibuda Sanghiyang Panji, mahayu na kadatwan, dibalay manelah taman mihapitkeun dora larangan. Nu migawe bale-bobot pituwelas jajar, tinulis pinarada warnana cacaritaan [14]. Bangunan-bangunan megah didirikan. Cerita-cerita sesuai kepentingan raja diabadikan dalam rupa-rupa warna di dinding emas.

Ruas-ruas “jalan tol" berbatu di kompleks elit pun dibangun. Tak hanya itu, pesta pora jadi biasa, minuman keras merajalela, praktik esek-esek dipelihara sambil tak ragu tak malu menyebut nama Dewata. Ma'mur Danasasmita (2001) menerangkan, "Keadaan ini dianggap sangat tidak patut, [k]arena hal itu telah melanggar segala macam ajaran agama dan moral"[15]. 

Adapun untuk menangkal musuh, suksesor Ratu Sakti itu bertindak makin irasional. Ia secara sengaja membuat bendera, "ngibuda" (bukan ngibul dah) "Sanghyang Panji", sebagai teman kediktatoran dan senjata mempertahankan kekuasaan.

Panji antikerusakan yang dikibarkan dan dikeramatkan sebagai jimat pencitraan itu, jelas saja nihil guna. Akan tetapi perlu dicatat sekali lagi, si raja tadi itu ialah suksesornya Ratu Sakti. Jadi keburukan-keburukan tadi itu, tidaklah berkumpul pada satu orang yang sama.

 

Bersambung


Referensi:
[1] R. E. Sulaeman Kartasumitra. 1993. Catatan-catatan tercecer mengenai kerajaan-kerajaan dan raja-raja pra Islam di Jawa Barat, tahun 130-1579 M, hlm 32.
[2] Kunaka Adimihardja. 1992. Kasepuhan yang tumbuh di atas yang luruh: pengelolaan lingkungan secara tradisional di kawasan Gunung Halimun, Jawa Barat, hlm 62.
[3] Ibnu Qoyim Isma'il. 2003. Agama & pandangan hidup: studi tentang 'local religion" di beberapa wilayah Indonesia, hlm 166. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Puslit Kemasyarakatan dan Kebudayaan.
[4] Aan Merdeka Permana. 2008. Kemelut di Cakrabuana - Volume 2, hlm 8.
[5] R. E. Sulaeman Kartasumitra. Ibid, hlm 32.
[6] Hermawan Aksan. 2013. Jaka Wulung 1 Pertarungan di Bukit Sagara. Bentang.
[7] Atja. 1968. Tjarita Parahijangan: naskah titilar karuhun urang Sunda abad ka-16 Masehi, hlm 58. Jajasan Kebudajaan Nusalarang, Bandung.
[8] Atja. Ibid, hlm 58.
[9] George Santayana. 2005. The Life of Reason: Introduction and Reason in Common Sense, hlm 92. The Project Gutenberg eBook.
[10] Atja. Ibid, hlm 58.
[11] Aan Merdeka Permana. 2009. Senja jatuh di Pajajaran: kemelut di Istana Sri Birma, Volume 1, hlm 180. Tiga Serangkai. Solo.
[12] Aan Merdeka Permana. 2008. Kemelut di Cakrabuana - Volume 2, hlm 8.
[13] R. E. Sulaeman Kartasumitra. Ibid, hlm 32.
[14] Atja. Ibid.
[15] Ma'mur Danasasmita. 2001. Wacana bahasa dan sastra Sunda lama, hlm 104.

 

 


Komentar

Unknown user

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.