Petisi Untuk Setya Novanto

Ikuti
Setya Novanto

Setya Novanto terus membantah jika ia berada dalam rekaman yang menunjukkan sebuah negosiasi dengan pengusaha ‘R’ dan pimpinan PT. Freeport Indonesia. Sebelumnya, kasus ini telah dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan oleh Sudirman Said karena diduga terdapat pencatutan nama Presiden dan Wapres. Namun, adakah fakta lain terkait dengan rekaman tersebut?

Rekaman ini menunjukan Setya Novanto, pengusaha ‘R’, dan pimpinan Freeport Indonesia berencana untukmemperpanjang kontrak Freeportdi Indonesia. Akan tetapi, dalam rencana perpanjangan kontrak tersebut, Setya Novanto disinyalir menyebut nama Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla untuk menerima sekian persen dari saham yang rencananya akan ‘dibagi-bagi’. Oleh karena itu, Menteri ESDM, Sudirman Said melaporkan rekaman tersebut ke MKD.

CNN Indonesia menjelaskan, ‘pembagian saham’ yang dibahas di rekaman tersebut memang rencana ‘bagi-bagi hasil’. Namun, Setya terus membantah dengan menyatakan ia tidak menutupi hasil pemeriksaan tersebut kepada publik agar masyarakat Indonesia mengetahui kebenaran dari laporan Sudirman Said.

Akan tetapi, laporan Sudirman Said mengenai rencana ‘bagi-bagi hasil’ tidak datang begitu saja. Ada seseorang yang melaporkan rekaman tersebut ke Sudirman Said. Presiden Direktur PT. Freeport Indonesia, Maroef Sjamsoeddin adalah orang yang menyerahkan rekaman tersebut ke Menteri ESDM.

Maroef yang berasal dari keluarga tentara dan juga seorang purnawirawan TNI AU, ditunjuk oleh Robert Moffet untuk menjadi Presdir Freeport Indonesia setelah ia mendapatkan gelar MBA di Jakarta Institute Management Studies.

Maroef menyatakan, rekaman tersebut adalah pertemuan ketiga Setya Novanto, pengusaha ‘R’, dan pimpinan Freeport Indonesia di salah satu hotel di kawasan Pacific Place.

Maroef juga menyatakan, rekaman ini bukan hanya untuk mengungkap bahwa mereka mencatut nama Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla, tetapi juga untuk mengungkap adanya rencana ‘bagi-bagi hasil’ saham Freeport Indonesia dan PLTA Timika.

Sama seperti dengan pendapat Maroef, situs Jakarta.coconuts.co dan rambuenergy.com juga menjelaskan bahwa rekaman tersebut bukan sekedar menunjukan tidak etisnya salah satu pimpinan majelis dewan di Indonesia menyebut nama seorang Presiden dan Wakilnya untuk menjadi ‘tameng’ agar rencananya berhasil, tetapi juga implikasi adanya ‘permainan’ atau ‘bagi-bagi hasil’ saham Freeport Indonesia dan PLTA Timika.

Kedua situs tersebut setuju untuk menunggu MKD melakukan proses terhadap rekaman dan beserta orang-orang yang terkait dengan rekaman tersebut.

berdasarkan penjelasan di atas, Sudirman Said menyerahkan rekaman tersebut ke Mahkamah Kehormatan Dewan atas dasar laporan perbuatan tercela, karena telah mencatut nama Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla, yang diduga digunakan untuk kepentingan pribadi. Lalu, menurut Anda, apakah fakta dan penjelasan di atas dapat menjurus ke kasus lain?

Kemudian, dari beberapa data, fakta, dan penjelasan di atas serta laporan dari Sudirman Said, muncul petisi untuk menurunkan Setya Novanto dari jabatannya. Beberapa jam setelah petisi tersebut diluncurkan, sudah ada lebih dari 10.000 yang mendukung untuk mencopot jabatan Setya. berikut pro dan kontra dari kasus ini. 

Tentukan pilihan anda

Anda harus login terlebih dahulu untuk menentukan sikap dan pendapat anda.


Komentar

Unknown user

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.