Apa Itu “Nine-dash Line”?

Konsepsiana
Konsepsiana
Akun Selasar.com yang membahas konsep-konsep dengan sederhana
Ikuti
Nine-dash Line via chinausfocus.com

Pada konflik antara Indonesia dan Tiongkok di perairan Natuna, mencuat istilah nine-dash line (Baca: Konflik Indonesia-Tiongkok di Natuna: Akar Permasalahan). Istilah nine-dash line digunakan oleh Tiongkok sebagai dasar dari klaim atas wilayah kedaulatan mereka di laut. Namun, tahukah Anda makna sebenarnya dari nine-dash line?

Secara sederhana, nine-dash line adalah garis pembatas imajiner yang digunakan oleh Tiongkok untuk menunjukkan klaim mereka atas wilayah Laut Tiongkok Selatan. Menurut Peter J.Brown dalam tulisannya Calculated Ambiguity in the South China Sea, nine-dash line pada awalnya bernama eleven-dash line. Istilah ini pertama kali dipublikasikan melalui sebuah peta yang dibuat oleh Republik Tiongkok (1912-1949) pada Desember 1947 untuk menetapkan klaimnya atas Laut Tiongkok Selatan.

Setelah berpisah dari Republik Tiongkok (Taiwan) pada 1949, RRT (Tiongkok) kemudian menggunakan garis ini untuk menunjukkan klaim mereka atas sebagian besar wilayah Laut Tiongkok Selatan.

Damos Dumoli Agusman (Sekretaris Direktorat Jenderal Hukum dan Perjanjian Internasional Kementerian Luar Negeri RI) memberikan definisi yang menarik perihal nine-dash line. Dikatakannya bahwa banyak pemahaman mengenai nine-dash line.

“Mengenai nine-dash line ini, China tidak pernah menjelaskan apa maksudnya. Tiba-tiba kayak garis dari langit muncul begitu saja. Cara menarik garisnya pun kita tidak tahu,” katanya, dikutip dari CNN Indonesia. “Banyak pemahaman mengenai nine-dash line ini. Kalau Kemlu Indonesia tidak mau berandai-andai. Cuma kami pelajari beberapa tafsir tentang ini, dan yang paling lengkap itu Departement of State-nya Amerika.”

Nine-dash Line (chinausfocus.com)

Damos Dumoli Agusman kemudian mengemukakan tiga kemungkinan arti nine-dash line. Pertama, nine-dash line hanya merupakan indikasi bahwa semua pulau di dalamnya ialah milik Tiongkok. Artinya, Tiongkok hanya membuat garis-garis ini, kemudian semua yang ada di dalam garis itu mereka miliki. “Ini tafsir oke, atau tidak bertentangan hukum internasional.”

Kedua, kata Damos, nine-dash line adalah garis batas terluar. Jadi, semua air dan pulaunya dimiliki oleh Tiongkok. “Ini tafsir sangat eksesif dan sangat bertentangan tafsirnya dengan UNCLOS.”

Ketiga, nine-dash line menggambarkan bahwa perairan di dalamnya adalah hak historis yang diperoleh bukan berdasarkan UNCLOS. Bagi Damos, hal ini sangat ambigu.

Dari ketiga tafsir itu, yang terlihat di lapangan (dipraktikkan Tiongok) ialah tafsir kedua dan ketiga. Alasannya ialah karena Tiongkok mengirimkan nelayan-nelayannya menangkap ikan di sana.

 

Zulfian Prasetyo


Komentar

Unknown user

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.