Dialog Polri: Jenderal R.S. Soekanto "Sang Pahlawan"

Ikuti
Dialog Polri via selasar.com

Ketika menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada 14 Agustus 1945, Jepang yang menjajah Indonesia pada 1942 membubarkan PETA, Gyu-Gun, dan Heiho. Namun, tidak demikian halnya dengan Kepolisian. Jepang tidak membubarkan kepolisian karena berdasarkan Konvensi Jenewa, kepolisian tetap bertugas memelihara keamanan dan ketertiban umum.

Kepolisian kemudian menjadi aspek penting bagi Republik yang baru berdiri. Presiden kita saat itu, Ir. Soekarno, menyadari betul akan hal ini. Karenanya, pada 29 Agustus 1945, ia mengangkat Soekanto Tjokrodiatmodjo sebagai Kepala Kepolisian. Oleh Presiden RI, Soekanto diberi tugas penting, yaitu membentuk kepolisian nasional. Mulai dari sini, Soekanto melakukan sejumlah langkah demi mewujudkan gagasan kepolisian nasional itu sendiri.

Bagaimana kepolisian RI saat itu bereaksi pada agresi militer di Indonesia? Pada dasarnya, kepolisian adalah badan yang netral, yang berpihak kepada keamanan warga di atas segalanya. Namun, di bawah kepimpinan Soekanto, kepolisian mengambil sikap untuk menjaga keamanan warga Indonesia dengan cara melawan musuh yang mengganggu kestabilan negara. Soekanto mengatakan, “Kita tinggalkan Konvensi Geneva. Polisi harus siap melawan musuh  yang ingin mengambil/merebut kemerdekaan.”

Prof. Hermawan Sulistyo, Ph.D, profesor riset utama LIPI, menambahkan bahwa kepolisian saat itu memiliki kekuatan tempur lebih dari tentara pada masa revolusi. Persenjataan dan kemampuan bertarung kepolisian saat itu melebihi TNI yang pada saat itu belum bergerak membela negara. Hal itu ia ungkapkan pada acara Dialog Polri: Jenderal R.S. Soekanto “Sang Pahlawan”.

Selain itu, visi dari Pak Soekanto yang lain adalah fakta bahwa beliau mengirimkan perwira sebagai bawahannya ke Amerika untuk belajar forensik. Melihat dari dua visi ini membuat Pak Soekanto patut dijadikan pahlawan nasional, tidak hanya pahlawan polisi.

Hal itu juga diamini oleh Jenderal Pol. (Purn.) Prof. Dr. Awaloeddin Djamin, MPA.. Menurutnya, prestasi terbesar Soekanto adalah mengkonsolidasi kekuatan kepolisian yang Republik miliki saat itu sekaligus membuat struktur kepolisian yang rapi, mulai dari tingkat nasional hingga ke tingkat kecamatan. Soekanto juga mencetuskan berbagai struktur fungsi kepolisian seperti Brigade Mobil (Brimob), Polisi Wanita (Polwan), Polisi Air dan Udara (Polairud), dan lain-lain. Karena itu, menjadikan Soekanto sebagai pahlawan nasional adalah sesuatu yang pantas dilakukan.

 


Komentar

Unknown user

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.