Dialog Polri: Menguak Tabir Prostitusi Online Anak

Ikuti
Dialog Polri via mitrapol.com

Kasus kriminal prostitusi online memang sudah umum didengar di Indonesia. Namun, sangat disayangkan bahwa kasus kali ini berbeda dengan kasus biasanya. Kasus prostitusi online berkembang secara lebih spesifik dengan menyasar anak-anak dengan usia dibawah 18 tahun.

Tujuan topik prostitusi online anak yang diangkat pada Dialog Polri kali ini adalah untuk meningkatkan kesadaran serta mencerdaskan masyarakat mengenai kasus ini dengan mengundang berbagai pakar ahli dengan spesialisasi berbeda karena kepolisian tidak hanya ingin melakukan penindakan, tetapi juga melakukan upaya pencegahan agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban di kemudian hari.

Prostitusi online anak memiliki target remaja laki-laki, sehingga masalah utama merupakan kasus homoseksual yang merupakan bagian dari social pathology. Menurut Erlinda, M.Pd., homoseksual tidak menyebar secara biologis, namun secara sosial. Ketua Divisi Sosialisasi KPAI itu juga menyatakan bahwa penyebaran secara sosial bisa disadari maupun tidak disadari.

Sementara itu, Prof. DR. Yunahar Ilyas, LC., M.Ag. mengemukakan bahwa anak-anak yang berusia dibawah 18 tahun masih sangat rentan terhadap permasalahan ini karena mereka masih belum dapat berpikir dewasa. Menurut Ketua PP Muhammadiyah ini, yang paling perlu diperhatikan adalah penjagaan dari pihak keluarga. Hanya saja pada masa kini, orang tua modern dapat dikatakan cenderung terlalu sibuk dengan karier mereka, sedangkan keluarga miskin akan terlalu sibuk pada kemiskinannnya. Hal ini kemudian menyebabkan anak-anak yang dibesarkan oleh dua tipe keluarga ini tumbuh tanpa menerima pendidikan agama. Padahal, pendidikan agama sejak dini sangat diperlukan bagi anak dan tidak hanya diberikan di sekolah, tetapi juga di rumah.

Sementara itu menurut Dra. Khofifah Indar Parawansa, M.Si., beberapa korban prostitusi online memiliki tingkat permasalahan yang berbeda-beda. Ada yang memang rela menjual diri karena menjadi tulang punggung keluarga, ada yang bermasalah dengan orang tua yang melakukan kekerasan dalam rumah tangga, ada pula yang sampai saat ini masih belum ditemukan keluarga.

Menurut AKBP Endo Priambodo S.Sos., Polri sebagai pihak yang bertugas mengatasi cyber crime seringkali melakukan cyber patrol. Berdasarkan hasil dari cyber patrol dan penyelidikan pada bulan Agustus lalu, Polri berhasil menemukan salah satu mucikari dan melakukan penindakan dengan penangkapan.

Hal yang terungkap adalah ditemukan tujuh orang anak lelaki yang hampir semuanya masih sangat muda, paling muda berusia 13 tahun dan yang paling tua berusia 18 tahun. Proses penangkapan dilakukan dengan sangat hati-hati demi melindungi korban yang ‘diperjualkan’. Akan tetapi, terlepas dari penangkapan mucikari berinisial “AR”, masih banyak ratusan mucikari lain yang masih beroperasi sampai sekarang.

Hal yang cukup mengejutkan juga adalah fakta bahwa banyak mucikari prostitusi online ini pernah menjadi korban. Menurut pengakuan AR, keseluruhan anak” yang terlibat sekitar 200 anak dan terdapat tujuh kota tempat jaringan mucikari dalam skala nasional.

Senada dengan Endo, Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak mengatakan bahwa terdapat beberapa jaringan sindikat prostitusi anak di Indonesia, contohnya jaringan Kebon Kacang, Batam, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Pontianak, Denpasar, NTT, NTB, Manado, dan Bandung.

Arist juga mengatakan bahwa terdapat siklus sexual abuse yang dimulai dari tahap menyelidiki anak (dengan mengamati anak-anak sekolah), melihat permasalahan, memikat anak, mendapatkan kepercayaan anak, melakukan pelecehan seksual. Kemudian, tahapan berakhir dengan mencampakkan anak.

Dalam modus operandinya, Polri menggunakan aplikasi yang memiliki sistem GPS untuk mendeteksi lokasi dalam suatu jaringan. Polri sendiri telah mengumpulkan sekitar 18 aplikasi yang kemungkinan digunakan untuk menunjang jaringan ini.

Penanggulangan Kasus Prostitusi Online

Apakah perilaku homoseksual dapat disembuhkan? Menurut Erlinda, sesuatu yang dibentuk dengan proses learn, maka dapat di-unlearn. Namun, perilaku homoseksual dapat timbul seperti adiksi sehingga membutuhkan kolaborasi ahli. Meskipun demikian, mengakui keberadaan fenomena ini bukan berarti mengakui kebenarannya.

LGBT sendiri dapat menular dari perilaku. Dalam teori perilaku, ada konsep yang namanya penularan dan pembiasaan, sehingga suatu perilaku dapat menjadi suatu karakter, menjadi kepribadian, dan membentuk kebiasaan. Anak merupakan kelompok usia paling rentan terhadap pengaruh dan sasaran LGBT, sehingga lebih cocok untuk dilakukan tindakan preventif. Selain itu, dibutuhkan sentuhan regulasi pemerintah dalam proses terapi secara antar individu.

Sementara itu, Yunahar Ilyas menekankan pentingnya pendidikan agama di rumah sebagai langkah untuk mencegah dan menanggulangi permasalahan ini. Pendidikan agama di rumah dapat dilakukan dengan keteladanan. Artinya, orang tua memberikan contoh kebiasaan-kebiasaan yang baik, memberikan nasihat-nasihat yang efektif seperti melalui kisah-kisah, serta menerapkan sistem reward and punishment.

Melalui pendidikan yang tepat, Yunahar percaya, anak-anak akan tercerdaskan dengan pengetahuan agama sehingga terhindar dari kejahatan yang salah satu contohya adalah prostitusi. Apabila keluarga tidak mampu memberikan pendidikan agama karena berbagai masalah, maka pihak yang memiliki kewajiban untuk mendidik anak tersebut adalah sekolah. Jika sekolah tidak bisa, maka selanjutnya diserahkan kepada masyarakat (salah satunya ialah ormas Islam) dan pemerintah. Namun penyerahan pendidikan anak kepada pemerintah adalah opsi terakhir. Karenanya, diperlukan sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah dalam penyelesaian masalah ini.

Khofifah sendiri menyatakan bahwa tugas kementeriannya lebih dititikberatkan pada rehabilitasi sosial, dengan menggunakan psychosocial therapy. Ada beberapa tes yang dilakukan untuk mengetahui terapi penyembuhan dan apa yang dibutuhkan untuk korban prostitusi ini. Untuk ketujuh korban AR yang saat ini sedang direhabilitasi dan sekaligus diberikan tes di RPSA, misalnya, enam orang anak akan sembuh dalam 3 minggu dan akan dilepas ke kehidupan sosial, namun ada satu anak yang masih perlu direhabilitasi secara intensif, baik dari RSPA maupun keluarga anak tersebut karena kondisi mentalnya masih sangat rapuh. Untunglah ketujuh orang ini sudah bertekad agar tidak ada lagi anak-anak yang menjadi korban walaupun mereka mengalami counselling yang berbeda-beda sesuai tingkat trauma seksual yang diderita.

Sebagai langkah jangka panjang bagi penyembuhan mereka, anak-anak akan disekolahkan karena masih dalam usia wajib sekolah.

Dalam penyelesaian dan pencegahan masalah ini, diambil scope tertentu untuk mengetahui tingkat konflik seksual dari anak-anak yang menjadi korban prostitusi online sehingga dapat dirancang metode terapi behaviour dan sisi kognitifnya. Dengan demikian, fungsi sosialnya dapat pulih seperti semula.

Dibutuhkan proses integrasi sosial yang lebih komprehensif, seperti reintegrasi sosial dimana dibutuhkan kesepahaman antara korban, keluarga, dan lingkungan untuk mengembalikan korban agar dapat dilepas kembali ke kehidupan sosial.

Sementara itu, menurut Arist, apabila kita ingin memutus rantai sindikat prostitusi anak di Indonesia, maka semua pihak harus bekerja sama untuk melakukan tiga hal penting, yaitu pencegahan, deteksi dini, dan respon kasus.

 


Komentar

Unknown user

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.