Politisasi Sejarah Sumpah Pemuda

Fact Check
Fact Check
Akun Selasar.com yang mengecek data-fakta isu
Ikuti
Ilustrasi Kongres Pemuda II via kratonpedia.com

“History is written by the victors.” (Winston Churchill)

Sejarah seharusnya bukan merupakan hal yang bisa menjadi kontroversi, karena ia sudah terjadi di masa lalu. Semua fakta sudah selesai. Namun penulisan sejarah tidak berada di ruang hampa. Ia hidup bersama kekuasaan yang membutuhkan legitimasi dan pembenaran bagi perbuatan-perbuatannya.

Menurut Asvi Warman Adam dalam Kontrol Sejarah Semasa Pemerintahan Soeharto, sedikitnya ada dua cara pengendalian sejarah. Pertama, dengan penambahan unsur tertentu dalam sejarah, misalnya membuat silsilah palsu sebagai legitimasi penguasa saat ini yang dibuat seolah memiliki hubungan dengan penguasa masa lampau.

Kedua, dengan “kebisuan sejarah” (le silence de l'histoire), menghilangkan bagian tertentu dari sejarah bangsa seperti yang dilakukan bangsa Eropa pada masa kolonialisme dengan tidak menampilkan wajah penindasan kepada penduduk pribumi.

Sebagai peristiwa sejarah yang diperingati secara nasional, Sumpah Pemuda tidak terlepas dari propaganda penguasa. Menurut Asvi Warman Adam dalam Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa, Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 28 Oktober 1928 merupakan hal yang diperlukan oleh pemerintah (terutama pada masa Orde Baru) untuk mendukung retorika pembangunan yang mengandalkan “persatuan dan kesatuan”.

Padahal menurut Prof. Sartono Kartodirjo, Manifesto Politik 1925 adalah tonggak sejarah yang lebih penting daripada Sumpah Pemuda. Manifesto Politik 1925 dicanangkan oleh Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda. Melalui majalah dwibulanan-nya Indonesia Merdeka, Perhimpunan Indonesia menyatakan Manifesto 1925 yang isinya sebagai berikut:

  1. Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih mereka sendiri;
  2. Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak mana pun;
  3. Tanpa persatuan kukuh dari pelbagai unsur rakyat, tujuan perjuangan itu sulit dicapai.

Menurut Asvi, di dalam ketiga butir pernyataan tersebut terdapat konsep nation Indonesia, demokrasi, unitarianisme, otonomi, dan kemerdekaan.

Prof. Sartono pun mempertanyakan mengapa sampai sekarang yang diperingati secara nasional adalah Sumpah Pemuda dan bukan Manifesto Politik 1925. Padahal konsep-konsep dalam pernyataan Perhimpunan Indonesia itu lebih fundamental bagi nasionalisme Indonesia, sedangkan Sumpah Pemuda dapat dianggap sebagai pelengkap saja.

Namun politisasi Sumpah Pemuda bukan hanya dilakukan oleh Orde Baru. Presiden Soekarno sudah lebih dulu menggunakannya sebagai mitos persatuan Indonesia pada 1958. Soekarno yang menghadapi ancaman pemberontakan di daerah-daerah membutuhkan mitos untuk memukul para pemberontak yang sejatinya melawan karena ketidakadilan pusat kepada daerah.

Sumpah Pemuda juga disebut digunakan Soekarno untuk membungkam Konstituante dalam peralihan dari Demokrasi Parlementer menjadi Demokrasi Terpimpin. Soekarno bersama Mohammad Yamin merekayasa teks hasil Kongres 1928 untuk menekankan pentingnya persatuan.

Menurut JJ. Rizal dalam Pemuda Radikal di Sumpah Pemuda, Soekarno menggunakan Sumpah Pemuda sebagai “senjata ideologi” untuk menegur para dalang gerakan separatis. Mereka dianggap sebagai “orang-orang yang menyimpang dari "Sumpah 1928”.

Bahkan Mohammad Yamin membuat mitos tambahan dengan menyejajarkan Sumpah Pemuda dengan visi Indonesia yang jauh lebih tua dan besar, yaitu Sumpah Palapa. Secara tidak langsung Yamin ingin mengatakan, mereka yang melakukan gerakan separatis telah melanggar tuahnya nenek moyang sebagai leluhur.

Berikut ini adalah teks asli hasil Kongres Pemuda 1928:

POETOESAN CONGRES PEMOEDA-PEMOEDA INDONESIA

Kerapatan pemoeda-pemoeda Indonesia diadakan oleh perkoempoelan-perkoempoelan pemoeda Indonesia jang berdasarkan kebangsaan dengan namanja Jong Java, Jong Soematra (Pemoeda Soematra), Pemoeda Indonesia, Sekar Roekoen, Jong Islamieten, Jong Bataksbond, Jong Celebes, Pemoeda Kaoem Betawi dan Perhimpoenan Peladjar2Indonesia.

Memboeka rapat pada tanggal 27 dan 28 Oktober tahoen 1928 dinegeri Djakarta;

Sesoedahnja mendengar pidato-pidato dan pembitjaraan jang diadakan didalam kerapatan tadi

Sesoedahnja menimbang segala isi-isi pidato-pidato dan pembitjaraan ini

Kerapatan laloe mengambil kepoetoesan:

Pertama: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH INDONESIA.

Kedoea: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA.

Ketiga: KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENDJOENDJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA.

Setelah mendengar poetoesan ini, kerapatan mengeloearkan kejakinan azas ini wadjib dipakai oleh segala perkoempoelan-perkoempoelan kebangsaan Indonesia.

Mengeloearkan kejakinan persatoean Indonesia diperkoeat dengan memperhatikan dasar persatoeannja:

KEMAOEAN

SEDJARAH

BAHASA

HOEKOEM ADAT

PENDIDIKAN DAN KEPANDOEAN

dan mengeloearkan pengharapan, soepaja poetoesan ini disiarkan dalam segala soerat kabar dan dibatjakan dimoeka rapat perkoempoelan-perkoempoelan kita.

Dalam naskah asli tersebut tidak terdapat kata “sumpah”. Soekarno dan Yamin mengganti kata “putusan” menjadi “sumpah” untuk menegaskan, kita tidak boleh melanggar sumpah.

Sumpah Pemuda adalah peristiwa sejarah yang dalam perjalanannya menjadi simbol yang dibutuhkan oleh penguasa sebagai legitimasi kekuasaannya. Namun pemaknaannya kini tentu bergantung pada kita sendiri, bahwa persatuan tidaklah berdiri sendiri. Ia harus dibarengi dengan hak-hak yang setara antarwarga negara.

Selamat memperingati Sumpah Pemuda!

 

Rachmad Satriotomo


Komentar

Unknown user

Anda harus login terlebih dahulu untuk memberikan komentar.